Puasa Ramadhan Mengajarkan kita Tentang Kesempitan dan Kelapangan Hati

 OPINI 


 Puasa Ramadhan  Mengajarkan  kita Tentang Kesempitan dan Kelapangan Hati


Alqantaranews.id - Saudaraku yang di Rahmati Allah,

  Puasa Ramadhan mengajarkan kita tentang kesabaran dan kelapangan hati. Dengan menahan lapar dan haus, kita belajar mengontrol diri dan meningkatkan kesabaran. Selain itu, puasa juga mengajarkan kita untuk lebih peduli dengan orang lain yang kurang beruntung dan meningkatkan rasa empati.Jumat,20/2/26.


Saudaraku yang dirahmati Allah,

Ada di antara kita yang senyum, tapi hatinya sedang runtuh.

Ada yang terlihat kuat, padahal diam-diam sedang menahan tangis.

Ada yang masih bisa berdiri hari ini, meski semalam sujudnya basah oleh air mata.

Mungkin cobaan itu tentang rezeki yang seret.

Tentang rumah tangga yang tak lagi hangat.

Tentang anak yang belum berubah.

Tentang tubuh yang terus diuji sakit.

Atau tentang doa yang terasa lama sekali dikabulkan.


Dan di tengah semua itu Allah tetap memanggil kita untuk berpuasa.


Mengapa?

Mengapa kita harus berpuasa, ya kita harus  berpuasa, sebagai mana yang di jalankan dan  di kerjakan atau di tunaikan  oleh Nabi besar  Muhammad Saw, dan seluruh pendahulu pendahulu nya.

 Puasa Mengerti Luka Kita

Saudaraku yang di Rahmati Allah,

Saat kita berpuasa, kita menahan lapar dan haus. Tubuh terasa lemah. Kepala mungkin pening. Emosi mudah naik. Tapi kita tetap bertahan.


Bukankah itu seperti hidup kita?


Puasa seakan berkata,

“Aku tahu kamu lelah… tapi kamu masih bisa bertahan.”


Setiap rasa lapar adalah pengingat bahwa kita mampu menahan. Setiap dahaga adalah bukti bahwa kita lebih kuat dari yang kita kira.


 Puasa Mengajarkan Menangis di Tempat yang Benar


Ada tangisan yang tidak bisa kita ceritakan kepada manusia.

Ada luka yang tidak semua orang akan mengerti.

Tapi saat sahur yang sunyi

Saat sujud di sepertiga malam…

Saat detik-detik menjelang berbuka

Di situlah Allah membuka pintu-Nya.

Puasa membuat hati lebih lembut. Doa lebih dalam. Air mata lebih jujur.

Kadang bukan masalahnya yang langsung selesai,

tapi hati kita yang Allah kuatkan.

Dan itu lebih besar nilainya.

  Puasa Mengajarkan kita kebaikan dan tentang  ketulusan, puasa Ramadhan  itu berat namun ringan dalam kesabaran dan keikhlasan hati, sesungguhnya kita tahu  bahwa berat Itu Sementara waktu.


Saudaraku yang di Rahmati Allah,

Coba kita ingat…

Seberat apa pun menahan lapar dari Subuh, tetap

 akan ada Maghrib.

Tak pernah ada puasa yang tidak berbuka.


Maka ujian pun begitu.

Tidak ada kesedihan yang abadi.

Tidak ada tangisan yang sia-sia.

Tidak ada doa yang tidak didengar.


Kalau hari ini hidup terasa panjang dan melelahkan, yakinlah…

Maghrib itu sedang

 mendekat.

Allah Tidak Pernah Meninggalkan

Saudaraku yang di Rahmati Allah, 

Kalau Allah masih memberi kita kekuatan untuk berpuasa, itu tanda Allah belum selesai dengan kita.

Itu tanda Allah masih ingin mendekatkan kita.

Itu tanda kita masih dicintai.

Karena sering kali, ujian bukan tanda kebencian.

Ujian adalah cara Allah membersihkan, mengangkat derajat, dan menguatkan jiwa.

Puasa adalah pelukan lembut dari Allah yang berkata

Aku tahu kamu lelah. Tapi Aku bersamamu.”

Kalau hari ini kamu berpuasa sambil membawa beban yang berat,

ketahuilah…Allah melihat.

Allah mendengar.

Allah menghitung setiap sabar, setiap tangis, setiap doa.

Insya Allah puasa kita bukan hanya menahan lapar,

tetapi menjadi cahaya di tengah gelapnya ujian.


Insya Allah mengganti setiap kesedihan dengan ketenangan,

setiap kesempitan dengan kelapangan,

dan setiap air mata dengan kebahagiaan yang tak disangka-sangka.


Saudaraku yang di Rahmati Allah,

Puasa Ramadhan adalah momen yang tepat untuk merefleksikan diri dan meningkatkan kualitas iman. Dengan menahan diri dari keinginan duniawi, kita dapat fokus pada spiritualitas dan meningkatkan hubungan dengan Allah.

 Selain itu, puasa juga mengajarkan kita tentang kesabaran, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Semoga puasa Ramadhan ini membawa kita pada kebaikan dan keberkahan yang lebih besar, hingga akhirnya 1 Syawal  menyongsong di Hari Raya Idul Fitri.

Sesungguhnya kedatangan  dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri  adalah puasa kita yang telah mengajarkan kita tentang Kesempitan dan Kelapangan hati, yang membawa keberkahan, ketenangan, kebahagiaan dan kemenangan yang muliah di hati kita di  hari nan Fitri, di sanalah kita saling membagi kebahagiaan kita saling memberi dan menerima maaf lahir dan bathin, mohon maafin lahir dan bathin.(Redaksi

Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.🤲🙏💪🥰

Redaksi :

Sapta Rini Sunardi S IP 

Editor :

Andi Hasmuliati 

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak