Desakan Warga Makin Menguat. Amir Mahmud diminta "mundur" dari Kepala MTs GUPPI Malintang
MALINTANG, - Alqantaranews.id- Desakan warga makin menguat agar kepemimpinan di institusi pendidikan Islam GUPPI Malintang segera berganti. Amir Mahmud yang saat ini menjabat sebagai pimpinan madrasah didesak untuk mundur dan meletakkan jabatan.
Sejumlah warga dan wali murid yang ditemui awak media (20/05), mengungkapkan kekecewaan mendalam atas sikap arogansi dan ambisius Amir Mahmud yang tanoa merasa malu bisa menghalalkan secara cara untuk mempertahankan jabatannya sebagai Kepala MTs GUPPI Malintang, padahal dinilai warga sudah tidak amanah dan kerap bermasalah. Warga juga mempertanyakan proses keabsahan jabatan Kepala MTs diduga diraih dengan skenario kotor dan penuh rekayasa yang telah lama diragukan warga.
Wali murid berinisial A Lubis kepada media menguraikan kronologi pasca wafatnya H. Azhari Hasibuan sebagai Kepala MTs GUPPI Malintang yang juga merangkap Ketua Yayasan, sejak Agustus 2025 diduga kuat Amir Mahmud dengan motif ambisius dan syahwat kepentingan pribadi yang begitu tinggi, diduga telah melakukan rekayasa dan manipulasi dokumen untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi Kepala MTs GUPPI Malintang tanpa melalui prosedur resmi seperti rapat Yayasan, Dewan Guru, Komite Madrasah, Wali Murid, BPD dan Kades. 'Udah gak benar cara Amir Mahmud ini meraih kekuasaan dengan ambisius dan intrik manipulatif. Tanpa melalui prosedur rapat Yayasan, Dewan Guru, Komite Madrasah, BPD, Wali Murid dan aparat desa. Sungguh cara yang tidak berakhlakqul karimah dan sama sekali tidak menghargai warga dan nilai moral pendidikan. Jadi semua warga tidak dianggap sama dia (Amir). Bila cara kotor dilakukan untuk meraih jabatan, maka tunggulah kehancurannya" ungkap sumber tsb.
Sementara itu, sumber lain wali murid bermarga Batubara yang berdomisili di sekitaran madrasah menyatakan bahwa kekhawatiran warga makin memuncak ketika melihat fakta kepemimpinan Amir Mahmud selama hampir setahun menjabat, sama sekali tidak memberikan kemajuan dan perubahan berarti bagi madrasah. Malahan fakta ril yang terjadi adalah kemerosotan tajam dan kemunduran.
Bahkan Amir Mahmud sangat jarang masuk ke sekolah, "bolos" dan lebih memilih sibuk dengan aktivitasnya diluar sekolah. Kemudian di Madrasah itu sendiri, tambah sumber tsb sangat jarang dilakukan upacara nasional penaikan bendera pada hari Senin.
Ditambahkan warga, Amir Mahmud juga tidak pernah mendukung dana operasional untuk kegiatan madrasah. Selain itu tidak pernah terlihat ada pembelian alat-alat pendukung sarana prasarana sekolah, bahkan papan tulis juga masih menggunakan kapur belum "white board" dan spidol, ditambah lagi kondisi mobiuler berupa kursi, meja, asbes dll hampir seluruhnya dalam keadaan rusak berat. Kemerosotan moral dan prestasi siswa juga makin parah akibat tidak adanya pembinaan dan tangungjawab Amir Mahmud sebagai Kepala Madrasah. Selain itu kesemrawutan dan kekumuhan madrasah juga menjadi sorotan warga sehingga jauh dari kata layak sebagai madrasah. Selain itu suasana harmonis dan kekeluargaan juga sudah terasa asing di madrasah tsb, yang diperparah dengan sikap Amir Mahmud yang kerap arogan dan tidak demokratis bagi warga madrasah. "Kami hanya menginginkan kwalitas madrasah ini makin maju. Tapi kenyataannya membuat kita miris. Setelah dijabat oleh Amir Mahmud ternyata makin parah dan makin mundur" ucap sumber tsb.
Dampak lemahnya kepemimpinan Amir Mahmud akibat jarangnya hadir ke sekolah, telah mengakibatkan dampak nyata menurunnya kedisiplinan, merosotnya jumlah siswa baru dan kegiatan ekstrakurikuler madrasah nyaris lumpuh sehingga tak ada prestasi yang dibanggakan dari madrasah setelah dipimpin oleh Amir Mahmud. "Kami warga Malintang hanya ingin Amir Mahmud segera diganti. Dia harus sadar diri dan tau malu untuk segera mengundurkan diri. Kami ingin madrasah ini kembali hidup dan terasa manfaatnya bagi warga. Pemimpin yang abai dan tidak peduli dengan madrasah akan berdampak pada motivasi, prestasi dan masa depan peserta didik. Pilihan mengundurkan diri adalah solusi terbaik untuk Amir Mahmud" terang warga tsb dengan lantang.
Lebih fatal ungkap sumber lainnya bermarga Hasibuan, dana BOS Madrasah dengan 140-an siswa diduga kuat bermasalah dan berpotensi tinggi rawan korupsi akibat tata kelola yang dinilai tidak transparan.
Warga paruh baya ini mengungkapkan akan mempertimbangkan langkah hukum melakukan pelaporan atas dugaan KKN dalam tata kelola Dana BOS tsb. "Kita sudah mengantongi data dan temuan. Kita akan mempelajari hal ini dan tidak tertutup kemungkinan akan melaporkan hal ini ke penegak hukum untuk diusut tuntas" jelasnya.
Pengelolaan Dana BOS madrasah ungkap sumber tsb, diduga hanya untuk kepentingan pribadi pimpinan madrasah dengan motif memperkaya diri sehingga berpotensi merugikan keuangan negara. "Amir mahmud diduga hanya main sendiri, tanpa melibatkan Dewan Guru, Komite Madrasah dan tidak transparan. Bendahara Madrasah juga hanya sekadar pajangan nama tanpa difungsikan" kesalnya.
Warga berharap agar Kepala Kantor Kementerian Agama Kab Madina dan pihak terkait seperti Camat, BPD, Pj Kades, Dewan Guru, Komite Madrasah, Wali Murid, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, dan warga di Malintang segera melakukan rapat untuk mencari solusi terbaik dan membentuk Yayasan yang baru dengan mengakomodir aspirasi warga demi menyelamatkan madrasah yang tengah dilanda kisruh ini dan terus menjadi sorotan luas sejumlah kalangan ini.(*)
Penulis/Pewarta:
(Magrifatulloh).
Redaksi/Publizher:
Andi Rosha
