Gol, Granada, dan Gaza: Dilema Nurani di Final Piala Dunia

 Gol,Granada, dan Gaza: Dilema Nurani di Final Piala Du


nia 


‎SIDRAP, SULAWESI SELATAN — https://alqantaranews.id - 19 Juni 2026-Aneh. Sangat aneh. Selama berbulan-bulan kita mengutuk sejarah kelam Andalusia. Kita menangisi Granada sebagai simbol runtuhnya sebuah peradaban Islam yang pernah menerangi dunia. Kita mengisahkan bagaimana umat Islam dipaksa meninggalkan masjid, menyembunyikan mushaf Al-Qur'an, mengganti nama, bahkan menyamarkan identitas demi mempertahankan iman. Namun, ketika Spanyol tampil di final Piala Dunia, sejarah itu seolah lenyap ditelan satu kata: Vamos España! Sorak-sorai memenuhi linimasa, sementara memori tentang Granada perlahan menghilang di bawah gemuruh stadion.

‎Di sisi lain, setiap hari kita menyaksikan gambar-gambar dari Gaza. Kita mengutuk ketidakadilan, mendoakan rakyat Palestina, dan mengecam setiap pihak yang dianggap tidak berpihak pada kemerdekaan mereka. Akan tetapi, ketika Argentina bertanding, semua kemarahan itu mendadak beristirahat selama sembilan puluh menit. Euforia sepak bola seakan mampu menunda nurani. Tiba-tiba kita berkata, "Jangan campurkan politik dengan olahraga," seolah prinsip itu selalu kita pegang dalam setiap aspek kehidupan.

‎Beginilah zaman bekerja. Gol ternyata lebih cepat menghapus ingatan daripada buku sejarah. Sepasang sepatu bola lebih ampuh menyita perhatian daripada ribuan halaman yang mencatat jatuh bangunnya sebuah peradaban. Kita hafal statistik pencetak gol, jumlah trofi, hingga nilai pasar pemain, tetapi banyak yang tidak lagi mengingat kapan Granada jatuh, mengapa Andalusia runtuh, atau bagaimana sebuah peradaban kehilangan kejayaannya bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena rapuhnya persatuan dan orientasi umatnya.

‎Barangkali musuh terbesar umat Islam hari ini bukan lagi pedang, meriam, atau benteng-benteng musuh. Musuh terbesar itu justru hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: hiburan yang perlahan menggeser skala prioritas hati. Kita tidak sedang kehilangan stadion, tetapi sedang kehilangan sensitivitas. Kita tidak sedang kehilangan pertandingan, tetapi perlahan kehilangan arah. Hiburan bukanlah musuh, tetapi ia menjadi masalah ketika berhasil menempati ruang yang seharusnya diisi oleh kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab moral.

‎Ironisnya, kita sering merasa paling religius ketika berbicara tentang sejarah Islam, tetapi menjadi sangat pragmatis ketika hiburan datang menghampiri. Aqidah seolah memiliki jam kerja: aktif ketika pengajian berlangsung, tetapi mengambil cuti ketika final Piala Dunia dimulai. Padahal, iman tidak mengenal jeda. Nilai-nilai yang diyakini seorang Muslim semestinya tetap menjadi kompas dalam setiap aspek kehidupan, baik ketika berada di masjid, di ruang kuliah, di media sosial, maupun ketika menikmati pertandingan sepak bola.

‎Tulisan ini bukan ajakan membenci Spanyol ataupun Argentina. Para pemain yang berlari di lapangan hari ini bukanlah Ratu Isabella, bukan pula para penguasa yang membuat keputusan politik pada masa kini. Mereka tidak memikul kesalahan sejarah para pendahulunya, sebagaimana tidak seorang pun patut dihukum atas dosa generasi sebelum dirinya. Namun demikian, bukan berarti sejarah harus dilupakan atau kepedulian terhadap penderitaan manusia masa kini boleh dikesampingkan hanya karena kita sedang menikmati sebuah pertandingan.

‎Pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah, "Haruskah saya mendukung Spanyol atau Argentina?" Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Mengapa nurani kita begitu mudah ditunda demi hiburan?" Mengapa kita bisa menghabiskan berjam-jam memperdebatkan VAR, formasi, dan peluang juara, tetapi begitu berat meluangkan waktu untuk membaca dan memahami sejarah umat, memperdalam ilmu, atau memikirkan bagaimana menjadi Muslim yang lebih peka atas sejarahnya?

‎Mungkin inilah kemenangan terbesar zaman modern. Bukan ketika satu negara mengangkat trofi Piala Dunia, melainkan ketika umat begitu larut dalam tontonan sehingga lupa mempertandingkan dirinya sendiri. Final yang sesungguhnya bukanlah Spanyol melawan Argentina, melainkan ingatan sejarah melawan kelalaian, kesadaran melawan kelengahan, dan nurani melawan euforia.

‎Granada telah mengajarkan bahwa sebuah peradaban tidak selalu runtuh karena musuhnya lebih kuat. Sering kali ia runtuh karena umatnya kehilangan persatuan, kehilangan orientasi, dan gagal menjaga nilai-nilai yang dahulu menjadi sumber kejayaannya. Sementara itu, Gaza mengingatkan bahwa penderitaan manusia tidak pernah berhenti hanya karena dunia sedang berpesta sepak bola. Luka kemanusiaan tetap nyata, meskipun sorak-sorai stadion terdengar lebih nyaring.

‎Karena itu, silakan mendukung siapa pun yang Anda sukai. Bersoraklah untuk gol-gol indah dan nikmatilah pertandingan dengan gembira. Namun, jangan sampai sorakan kepada sebuah gol lebih keras daripada kepedulian terhadap nilai-nilai yang Anda yakini. Sebab trofi pada akhirnya hanya akan tersimpan di sebuah museum, sedangkan imanb dan ingatan sejarah, kepedulian, dan pilihan moral kitalah yang akan menjadi bekal ketika kita kelak.

‎Oleh: Dr. Buhari Fakkah---Dosen UMS Rappang

‎Sirdap-19 Juni 2026-Aneh. Sangat aneh. Selama berbulan-bulan kita mengutuk sejarah kelam Andalusia. Kita menangisi Granada sebagai simbol runtuhnya sebuah peradaban Islam yang pernah menerangi dunia. Kita mengisahkan bagaimana umat Islam dipaksa meninggalkan masjid, menyembunyikan mushaf Al-Qur'an, mengganti nama, bahkan menyamarkan identitas demi mempertahankan iman. Namun, ketika Spanyol tampil di final Piala Dunia, sejarah itu seolah lenyap ditelan satu kata: Vamos España! Sorak-sorai memenuhi linimasa, sementara memori tentang Granada perlahan menghilang di bawah gemuruh stadion.

‎Di sisi lain, setiap hari kita menyaksikan gambar-gambar dari Gaza. Kita mengutuk ketidakadilan, mendoakan rakyat Palestina, dan mengecam setiap pihak yang dianggap tidak berpihak pada kemerdekaan mereka. Akan tetapi, ketika Argentina bertanding, semua kemarahan itu mendadak beristirahat selama sembilan puluh menit. Euforia sepak bola seakan mampu menunda nurani. Tiba-tiba kita berkata, "Jangan campurkan politik dengan olahraga," seolah prinsip itu selalu kita pegang dalam setiap aspek kehidupan.

‎Beginilah zaman bekerja. Gol ternyata lebih cepat menghapus ingatan daripada buku sejarah. Sepasang sepatu bola lebih ampuh menyita perhatian daripada ribuan halaman yang mencatat jatuh bangunnya sebuah peradaban. Kita hafal statistik pencetak gol, jumlah trofi, hingga nilai pasar pemain, tetapi banyak yang tidak lagi mengingat kapan Granada jatuh, mengapa Andalusia runtuh, atau bagaimana sebuah peradaban kehilangan kejayaannya bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena rapuhnya persatuan dan orientasi umatnya.

‎Barangkali musuh terbesar umat Islam hari ini bukan lagi pedang, meriam, atau benteng-benteng musuh. Musuh terbesar itu justru hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: hiburan yang perlahan menggeser skala prioritas hati. Kita tidak sedang kehilangan stadion, tetapi sedang kehilangan sensitivitas. Kita tidak sedang kehilangan pertandingan, tetapi perlahan kehilangan arah. Hiburan bukanlah musuh, tetapi ia menjadi masalah ketika berhasil menempati ruang yang seharusnya diisi oleh kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab moral.

‎Ironisnya, kita sering merasa paling religius ketika berbicara tentang sejarah Islam, tetapi menjadi sangat pragmatis ketika hiburan datang menghampiri. Aqidah seolah memiliki jam kerja: aktif ketika pengajian berlangsung, tetapi mengambil cuti ketika final Piala Dunia dimulai. Padahal, iman tidak mengenal jeda. Nilai-nilai yang diyakini seorang Muslim semestinya tetap menjadi kompas dalam setiap aspek kehidupan, baik ketika berada di masjid, di ruang kuliah, di media sosial, maupun ketika menikmati pertandingan sepak bola.

‎Tulisan ini bukan ajakan membenci Spanyol ataupun Argentina. Para pemain yang berlari di lapangan hari ini bukanlah Ratu Isabella, bukan pula para penguasa yang membuat keputusan politik pada masa kini. Mereka tidak memikul kesalahan sejarah para pendahulunya, sebagaimana tidak seorang pun patut dihukum atas dosa generasi sebelum dirinya. Namun demikian, bukan berarti sejarah harus dilupakan atau kepedulian terhadap penderitaan manusia masa kini boleh dikesampingkan hanya karena kita sedang menikmati sebuah pertandingan.

‎Pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah, "Haruskah saya mendukung Spanyol atau Argentina?" Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Mengapa nurani kita begitu mudah ditunda demi hiburan?" Mengapa kita bisa menghabiskan berjam-jam memperdebatkan VAR, formasi, dan peluang juara, tetapi begitu berat meluangkan waktu untuk membaca dan memahami sejarah umat, memperdalam ilmu, atau memikirkan bagaimana menjadi Muslim yang lebih peka atas sejarahnya?

‎Mungkin inilah kemenangan terbesar zaman modern. Bukan ketika satu negara mengangkat trofi Piala Dunia, melainkan ketika umat begitu larut dalam tontonan sehingga lupa mempertandingkan dirinya sendiri. Final yang sesungguhnya bukanlah Spanyol melawan Argentina, melainkan ingatan sejarah melawan kelalaian, kesadaran melawan kelengahan, dan nurani melawan euforia.

‎Granada telah mengajarkan bahwa sebuah peradaban tidak selalu runtuh karena musuhnya lebih kuat. Sering kali ia runtuh karena umatnya kehilangan persatuan, kehilangan orientasi, dan gagal menjaga nilai-nilai yang dahulu menjadi sumber kejayaannya. Sementara itu, Gaza mengingatkan bahwa penderitaan manusia tidak pernah berhenti hanya karena dunia sedang berpesta sepak bola. Luka kemanusiaan tetap nyata, meskipun sorak-sorai stadion terdengar lebih nyaring.

‎Karena itu, silakan mendukung siapa pun yang Anda sukai. Bersoraklah untuk gol-gol indah dan nikmatilah pertandingan dengan gembira. Namun, jangan sampai sorakan kepada sebuah gol lebih keras daripada kepedulian terhadap nilai-nilai yang Anda yakini. Sebab trofi pada akhirnya hanya akan tersimpan di sebuah museum, sedangkan imanb dan ingatan sejarah, kepedulian, dan pilihan moral kitalah yang akan menjadi bekal ketika kita kelak.

Oleh: Dr. Buhari Fakkah---Dosen UMS Rappang

Pewarta - Robby Rumba 

Editor -  Andi Pooja 

Redaktur - Andi Rusdi

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak