Inovasi Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa KKNT IPB Edukasi PGPR dan Pengendalian Hama Berbasis Iklim di Desa Ngaluran

 Inovasi Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa KKNT IPB Edukasi PGPR dan Pengendalian Hama Berbasis Iklim di Desa Ngaluran







DEMAK,  https : // www/ alqantaranews.id  - 8 Agustus 2026 – Tim mahasiswa KKNT Inovasi IPB kelompok *DEMAKKAB04* sukses menggelar program kerja _Plant Growth-Promoting Rhizobacteria_ dan _Edukasi Hama dan Penyakit Tanaman Berbasis Iklim_ di Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada jumat (7/8/2026).Selasa, 11/8/26


Kegiatan yang berlangsung di Aula Balai Desa Ngaluran mulai pukul 19.30 WIB ini menyasar gabungan kelompok tani dan perangkat desa. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengendalian hama terpadu, kemampuan identifikasi penyakit tanaman secara berkelanjutan, serta menumbuhkan keterampilan warga dalam memproduksi pupuk organik hayati PGPR secara mandiri.


Acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan sambutan dari Koordinator Desa tim KKNT DEMAKKAB04 serta *Bapak Ahmad Nur Azizul Miftah, S.T., M.M.* selaku PJ Kepala Desa Ngaluran.


*Edukasi Iklim dan Kesehatan Tanah Jadi Fokus Utama*  

Pada sesi inti, mahasiswa IPB memberikan materi mengenai pengaruh iklim terhadap komoditas pertanian unggulan Desa Ngaluran seperti padi, kacang hijau, bawang merah, pisang, dan cabai. 


Peserta juga dibekali pelatihan membaca data cuaca dari _Automatic Weather Station_ (AWS) melalui situs resmi https://map.sinaubumi.org/. Pemahaman data cuaca ini dinilai krusial agar petani bisa mengantisipasi potensi serangan hama secara lebih presisi berdasarkan kondisi iklim.


Selain itu, tim juga memaparkan hasil konsultasi dengan pakar pertanian IPB terkait permasalahan lahan di Desa Ngaluran. Materi mencakup analisis tanah, standar tanah ideal untuk bawang merah, solusi pembenahan tanah asam, manajemen pola tanam, kebutuhan nutrisi, hingga strategi pengendalian hama dan penyakit.


*Demonstrasi Pembuatan PGPR Disambut Antusias*  

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi interaktif pembuatan pupuk organik _Plant Growth-Promoting Rhizobacteria_ (PGPR). Mahasiswa memperagakan cara mengolah bahan sederhana seperti akar bambu, gula merah, terasi, dan dedak menjadi pupuk hayati. 


Para peserta juga dibagikan leaflet berisi panduan dan resep lengkap agar dapat mempraktikkan pembuatan PGPR secara mandiri di rumah.



Diskusi berjalan dua arah dan sangat interaktif. Warga aktif bertanya mulai dari teknis pembuatan, potensi bahan alternatif selain akar bambu, hingga keluhan terkait kondisi tanah lokal yang ber-pH asam, terlalu gembur, dan sering tergenang saat musim hujan.


*"PR kita bersama, terutama pertanian di Demak, adalah kebiasaan suka mengoplos yang mungkin membuat kualitas atau hasilnya tidak memuaskan. Hasilnya mentok 8,6-8,7 ton per hektar,"* ujar *Pak Eko Rulisyanto*, salah satu perangkat Desa Ngaluran dalam sesi diskusi.


Ia juga menambahkan pentingnya pemilihan varietas tahan asam seperti MR337 dan pengaturan pemupukan yang bijak. *"Betul yang disampaikan, daerah kita tanahnya asam. Jika pH-nya drop, banyak sekali yang kita lakukan untuk menetralisir. Mohon izin memberikan masukan, varietas yang tahan asam adalah MR337. Namun, kelemahannya adalah dia lebih lama dua minggu menyebabkan panen belakangan,"* lanjutnya.

*Penyerahan Bibit dan Distribusi PGPR*  

Acara ditutup dengan penyerahan simbolis bibit padi gogo *IPB 9G* kepada perangkat Desa Ngaluran. Sementara itu, produk hasil praktik fermentasi pupuk PGPR dijadwalkan akan didistribusikan kepada kelompok tani pada *12 Agustus 2026* setelah melalui masa fermentasi sempurna.

Melalui program kerja terpadu ini, mahasiswa KKNT IPB berharap masyarakat Desa Ngaluran dapat mewujudkan kemandirian produksi pupuk hayati serta menerapkan sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim secara berkelanjutan.

Pewarta - Zamroni 

Editor - Andi Pooja 

Redaktur  - Andi Rusdi

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak