Collaborative Digital Class Jadi Sahabat Demokrasi Pelajar dalam Pilketos Serentak Sulsel 2026
*Baca Selengkapnya di Link di Bawah ini* 👇 👇 👇
MAKASSAR — https : // alqantaranews.id , - Pelaksanaan Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS (Pilketos) serentak tingkat SMA/SMK se-Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum pembelajaran demokrasi bagi pelajar, tetapi juga menjadi ruang penguatan literasi dan keterampilan digital melalui kolaborasi dengan program Collaborative Digital Class (CDC) Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Jumat (18/09/2026)
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelaksanaan Pilketos yang modern, edukatif, transparan, dan relevan dengan perkembangan teknologi digital. Melalui pemanfaatan teknologi dalam proses pemilihan, peserta didik diperkenalkan pada praktik demokrasi yang memanfaatkan ekosistem digital secara positif dan bertanggung jawab.
Pendamping MKP OSIS dan MPK Sulawesi Selatan, Andi Muliyadi, mengatakan Program Collaborative Digital Class merupakan program untuk meningkatkan literasi dan keterampilan digital bagi siswa serta tenaga pendidik di Sulawesi Selatan.
Keterlibatan CDC dalam pelaksanaan Pilketos serentak memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik untuk memahami demokrasi sekaligus mempraktikkannya dengan memanfaatkan teknologi digital.
Peserta didik tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai proses pemilihan pemimpin organisasi sekolah, tetapi juga belajar bagaimana menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan beretika dalam sebuah proses demokrasi.
Dalam pelaksanaan Pilketos serentak Tahun 2026, Collaborative Digital Class diarahkan menjadi “Sahabat Demokrasi Pelajar”. Peran tersebut diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara pembelajaran digital dengan pendidikan demokrasi di lingkungan sekolah.
“Dalam pelaksanaan Pilketos ini, Collaborative Digital Class menjadi Sahabat Demokrasi Pelajar. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat pengalaman siswa dalam menggunakan teknologi secara positif sekaligus membangun budaya demokrasi yang santun dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan kebutuhan generasi pelajar saat ini yang tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kecakapan digital dan kemampuan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan sekolah.
Teknologi, kata Andi, tidak semestinya hanya dipandang sebagai alat untuk mempercepat proses administrasi. Lebih dari itu, teknologi dapat menjadi media pembelajaran yang membantu siswa memahami transparansi, partisipasi, akuntabilitas, serta pentingnya menghargai perbedaan dalam sebuah proses demokrasi.
Kolaborasi antara Pilketos dan CDC sekaligus memperkuat posisi pemilihan OSIS sebagai sarana pendidikan demokrasi di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan Pilketos tidak semata-mata diarahkan untuk memilih Ketua dan Wakil Ketua OSIS, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai partisipasi, tanggung jawab, integritas, penghormatan terhadap perbedaan pilihan, serta penggunaan teknologi secara bijak**.
Melalui pengalaman tersebut, pelajar diharapkan mampu memahami bahwa demokrasi bukan hanya tentang menentukan pilihan, tetapi juga tentang bagaimana menghormati pilihan orang lain, menjaga persaudaraan, dan menerima hasil proses pemilihan secara bertanggung jawab.
Pilketos serentak juga dapat menjadi miniatur atau laboratorium demokrasi pelajar, tempat siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai tahapan pemilihan yang terorganisasi, transparan, dan berorientasi pada nilai-nilai demokrasi.
Sinergi antara MKP OSIS dan MPK Sulawesi Selatan, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Collaborative Digital Class, dan satuan pendidikan diharapkan mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual bagi peserta didik.
Pelajar tidak hanya diarahkan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan positif, kolaboratif, produktif, dan bertanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, Pilketos serentak Tahun 2026 menjadi salah satu ruang pembelajaran yang mempertemukan dua kebutuhan penting generasi muda, yakni kecakapan digital dan kecakapan berdemokrasi.(*)
Editor : Andi Pooja
Redaksi : Andi Rosha
