Program 10.000 Karya Digital Guru, Disdik Sulsel Bangun Kesadaran Guru bahwa Berkarya Digital Itu Mudah
SULAWESI SELATAN — https : // alqantaranews
Id - Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan terus mendorong transformasi digital pendidikan melalui Program 10.000 Karya Digital Guru dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2026. Lebih dari sekadar menghimpun ribuan karya, program ini menjadi gerakan untuk membangun kesadaran dan mengubah cara pandang guru bahwa menghasilkan karya digital tidaklah sulit dan dapat dilakukan oleh siapa saja.
Melalui ekosistem Collaborative Digital Class (CDC), program ini mengajak guru untuk mulai mengenal, mencoba, dan mengembangkan berbagai bentuk karya digital sesuai kebutuhan pembelajaran. Pesan utama yang ingin dibangun adalah bahwa guru tidak harus menjadi ahli teknologi atau mahir pemrograman untuk dapat menghasilkan inovasi digital yang bermanfaat. Ahad (25/10/27)
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran pengembangan video animasi yang menghadirkan Dr. Muhammad Yassir, S.T., M.T., selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Kompetensi Fungsional Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai pemateri.
Dalam kegiatan ini, guru diperkenalkan pada pengembangan video animasi sebagai salah satu alternatif media pembelajaran yang dapat dibuat dengan memanfaatkan teknologi digital. Pendekatan demonstrasi dan praktik diharapkan membantu guru melihat secara langsung bahwa teknologi yang sebelumnya dianggap rumit ternyata dapat dipelajari dan digunakan untuk menghasilkan media pembelajaran yang menarik.
Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Anshar Syukur, S.Kom., M.I.Kom., menyampaikan bahwa salah satu tantangan dalam transformasi digital pendidikan bukan hanya ketersediaan teknologi, tetapi juga membangun keyakinan guru bahwa mereka mampu memanfaatkannya untuk berkarya.
Menurutnya, masih diperlukan upaya untuk menghilangkan anggapan bahwa membuat karya digital hanya bisa dilakukan oleh guru yang memiliki keahlian khusus di bidang teknologi informasi.
“Yang ingin kita bangun melalui Program 10.000 Karya Digital Guru adalah kesadaran bahwa berkarya digital itu tidak sesulit yang dibayangkan. Guru tidak harus menjadi ahli teknologi terlebih dahulu. Kita bisa mulai dari hal sederhana, dari kebutuhan pembelajaran sehari-hari, kemudian belajar dan mengembangkannya secara bertahap,” demikian pesan yang ingin ditekankan melalui program ini.
Ia menambahkan, ketika guru melihat contoh nyata, mencoba sendiri, dan merasakan bahwa mereka mampu menghasilkan sebuah karya, akan tumbuh kepercayaan diri untuk terus berinovasi. Pengalaman tersebut diharapkan memunculkan pemahaman baru di kalangan guru bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan alat yang dapat membantu pekerjaan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Program ini juga membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan karya secara mandiri maupun kolaboratif, dengan dukungan Relawan Guru Digital, mentor, komunitas, perguruan tinggi, serta mitra lainnya. Melalui pelatihan dan pendampingan, guru dapat memulai dari ide sederhana, memilih teknologi yang sesuai, lalu mengembangkan karya berdasarkan kebutuhan nyata di sekolah.
Karya yang dikembangkan dapat berupa video pembelajaran, animasi, komik digital, infografis edukatif, e-modul, media pembelajaran interaktif, aplikasi, hingga berbagai solusi digital lainnya. Kecanggihan teknologi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Hal yang lebih penting adalah fungsi, relevansi, dan manfaat karya tersebut bagi pembelajaran maupun layanan pendidikan.
Karya yang memenuhi kriteria dan telah melalui proses verifikasi serta validasi akan dihimpun dalam e-katalog melalui ekosistem CDC. Karya yang relevan selanjutnya berpeluang dimanfaatkan untuk memperkaya sumber belajar dalam ekosistem Smart School Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari tercapainya target 10.000 karya digital, tetapi juga dari tumbuhnya keberanian guru untuk mencoba, meningkatnya kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi, dan terbentuknya kebiasaan menghasilkan serta berbagi inovasi digital.
Melalui momentum Hari Guru Nasional Tahun 2026, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan berharap lahir budaya baru di lingkungan pendidikan: setiap guru berani mencoba, setiap guru punya kesempatan berkarya, dan setiap karya berangkat dari kebutuhan untuk memberikan pembelajaran yang lebih baik.
Sebab, transformasi digital pendidikan tidak selalu dimulai dari teknologi yang canggih. Transformasi itu dapat dimulai dari satu ide sederhana, satu guru yang berani mencoba, dan satu karya yang memberikan manfaat bagi peserta didik. (*)
Editor : Andi Pooja
Redaksi : Andi Rosha

