SYAMSUL RIZAL HASDY KETUM DPP PNPI : PRABOWO–MEGAWATI TUNJUKKAN KEDEWASAAN POLITIK, KEPENTINGAN BANGSA HARUS MELAMPAUI SEKAT KEKUASAAN

 SYAMSUL RIZAL HASDY KETUM DPP PNPI : PRABOWO–MEGAWATI TUNJUKKAN KEDEWASAAN POLITIK, KEPENTINGAN BANGSA HARUS MELAMPAUI SEKAT KEKUASAAN



JAKARTA — https: // alqantaranews.id -  Silaturahmi Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri dinilai membawa pesan penting bagi kehidupan politik nasional: perbedaan politik tidak semestinya berubah menjadi tembok yang memisahkan sesama anak bangsa. Syamsul Rizal menilai komunikasi antartokoh nasional seperti itu penting sebagai bagian dari upaya memelihara persaudaraan, etika politik, dan persatuan Indonesia.Sabtu, 03/10/26


“Politik memiliki musim, kekuasaan memiliki batas, dan jabatan pada akhirnya akan berganti. Tetapi persaudaraan kebangsaan tidak boleh memiliki tanggal kedaluwarsa. Di atas segala perbedaan politik, kita mempunyai rumah yang sama bernama Indonesia,” kata Syamsul Rizal.


Menurutnya, masyarakat perlu melihat silaturahmi tersebut dari perspektif yang lebih luas daripada sekadar kalkulasi koalisi, oposisi, ataupun konfigurasi kekuasaan. Pertemuan antartokoh yang memiliki perjalanan dan pandangan politik masing-masing dapat menjadi ruang komunikasi kebangsaan. Dalam demokrasi, berbeda sikap merupakan hal biasa; yang menentukan kualitas politik justru bagaimana perbedaan itu dikelola dengan adab, penghormatan dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik.


“Kita jangan membangun tradisi politik yang membuat orang harus menjadi musuh hanya karena berbeda pilihan. Demokrasi bukan arena untuk mewariskan dendam. Demokrasi adalah ruang untuk mengadu gagasan, menerima kritik, menghormati perbedaan, lalu kembali bekerja untuk kepentingan rakyat,” tegas Syamsul Rizal.


Ia juga mengingatkan para elite, kader partai, relawan, simpatisan, serta masyarakat agar tidak terus memelihara ketegangan politik setelah kontestasi berlalu. Menurutnya, menjadi ironi apabila para pemimpin nasional mampu berkomunikasi dan bersilaturahmi, sementara masyarakat justru masih terkotak-kotak oleh sentimen politik. Perbedaan pilihan tidak seharusnya merusak persahabatan, hubungan kekeluargaan, maupun persaudaraan antarsesama warga negara.


“Kalau para tokoh bangsa dapat duduk bersama, masyarakat pun seharusnya mampu saling merangkul. Jangan sampai elite berjabat tangan, tetapi rakyat masih saling mengepalkan tangan. Jangan mewariskan permusuhan politik kepada generasi berikutnya. Yang harus kita wariskan adalah kedewasaan berdemokrasi,” ujarnya.


Syamsul Rizal menegaskan bahwa persatuan tidak berarti meniadakan kritik atau menyeragamkan pandangan politik. Pemerintah tetap membutuhkan kritik yang substantif, sementara perbedaan pandangan merupakan bagian sah dari demokrasi. Namun kritik, dukungan, maupun perdebatan politik semestinya dibangun dengan argumentasi, etika, dan orientasi pada kepentingan masyarakat—bukan dengan kebencian, penghinaan, atau upaya mempertajam perpecahan.


“Persatuan bukan berarti semua orang harus berada dalam satu barisan politik. Persatuan adalah kemampuan untuk tetap menjadi saudara ketika pilihan kita berbeda. Kita boleh berdebat keras mengenai gagasan, tetapi jangan pernah kehilangan adab dan kesadaran bahwa sesudah perdebatan itu selesai, kita tetap satu bangsa, satu tanah air, dan memiliki masa depan yang harus diperjuangkan bersama,” lanjutnya.


Menurut Syamsul Rizal, Indonesia membutuhkan budaya politik yang semakin matang: kompetitif dalam gagasan, tegas dalam prinsip, terbuka terhadap kritik, tetapi tetap santun dalam hubungan kemanusiaan. Ia berharap komunikasi antartokoh bangsa dapat memperluas ruang dialog dan memberi keteladanan bahwa kepentingan nasional semestinya ditempatkan melampaui ego kelompok maupun kepentingan politik jangka pendek.


“Negeri sebesar Indonesia tidak boleh menghabiskan energinya untuk mempertahankan luka politik masa lalu. Tantangan bangsa terlalu besar dan kepentingan rakyat terlalu penting untuk dikalahkan oleh ego politik. Saatnya memperbanyak jembatan, bukan meninggikan tembok; mempertemukan gagasan, bukan mempertajam permusuhan. Pada akhirnya, siapa pun kita dan apa pun pilihan politik kita, Indonesia harus tetap menjadi titik temu tertinggi,” pungkas Syamsul Rizal.(*)

Editor : Andi Pooja 

Editor : Andi Rosha

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak