Foto yang Bicara: Andi Kaswadi dan Wabup Selle, Sipakalebbi di Atas Dinamika Politik
SOPPENG SULAWESI SELATAN— Alqantaranews.id - Wafatnya Sekretaris DPD II Partai Golkar Soppeng, Yahya Daud, Kamis (12/2/2026) lalu, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Partai Golkar, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi atas dinamika politik pasca Pilkada di Kabupaten Soppeng.
Dalam tradisi Bugis, dikenal nilai sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling mengingatkan). Nilai-nilai ini sejak lama menjadi penyangga etika kekuasaan agar tidak tercerabut dari akar budaya dan sejarah perjuangan kolektif masyarakat Bugis.
Almarhum Yahya Daud dikenal sebagai figur sentral dalam soliditas mesin politik Golkar Soppeng. Selama bertahun-tahun, ia menjadi tangan kanan sekaligus pasangan setia Andi Kaswadi Razak, Ketua DPD II Golkar Soppeng, dalam menggerakkan organisasi partai. Di bawah kepemimpinan Andi Kaswadi Razak dan kerja struktur yang solid, Golkar secara resmi mengusung serta memenangkan pasangan Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle pada Pilkada Soppeng 2024.
Bagi masyarakat Bugis, kemenangan politik bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan buah masseddi siri’, rasa malu kolektif untuk gagal ketika amanah telah diemban bersama. Karena itu, menghormati jasa para pengusung dan pejuang politik dipandang sebagai bagian dari menjaga siri’ na pacce, yakni harga diri dan empati sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Pasca penetapan resmi bupati dan wakil bupati terpilih, sebagian kalangan masyarakat mencermati adanya jarak komunikasi antara kepala daerah dengan figur-figur kunci partai pengusung, khususnya Andi Kaswadi Razak. Penilaian ini berkembang bukan semata sebagai konflik politik terbuka, melainkan sebagai ekspresi kekecewaan moral atas hubungan yang dinilai tidak lagi sehangat masa perjuangan.
Dalam kacamata adat Bugis, jarak semacam ini bukan sekadar persoalan politik praktis, melainkan ujian etika: apakah kekuasaan masih bersedia sipakainge, atau justru memilih berjalan sendiri dan melupakan jejak kolektif yang mengantarkannya ke puncak kekuasaan.
Momen melayat almarhum Yahya Daud justru menjadi simbol yang kuat dan dibaca publik. Di sela suasana duka, Wakil Bupati Soppeng Selle KS Dalle tampak duduk berdampingan dan berbincang akrab dengan Andi Kaswadi Razak.
Gestur tersebut dinilai sebagai perwujudan sipakalebbi bahwa di atas dinamika kekuasaan dan perbedaan sikap politik, adab dan penghormatan personal tetap dijaga.
“Dalam adat Bugis, orang besar bukan yang cepat naik, tetapi yang tidak lupa tangga tempat ia melangkah,” ujar seorang tokoh masyarakat Soppeng.
Sejumlah warga menilai momen tersebut sebagai pengingat bahwa politik tidak semestinya memutus ingatan kolektif atas jasa dan pengorbanan. Dalam tradisi lokal Soppeng, menghargai peran para pendahulu dan tokoh pengusung dipandang sebagai bagian dari kearifan berpolitik dan kedewasaan demokrasi.
Kepergian Yahya Daud pun dipandang sebagai kehilangan seorang perekat figur yang selama ini menjaga keseimbangan antara partai, kekuasaan, dan etika politik. Di tengah suasana duka, masyarakat berharap nilai-nilai adat Bugis tetap menjadi kompas bersama: bahwa kekuasaan boleh berganti, posisi boleh berubah, tetapi jasa dan kehormatan tidak boleh terputus oleh waktu dan jabatan(.*)
Editor :
Andi Pooja
Redaksi :
Sapta Rini Sunardi S IP

