Polisi Selidiki Kematian Karumga Febrie Adriansyah Tewas Misterius
JAKARTA, KEBAYORAN - https: // alqantaranews.id - Perkembangan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang mantan Jampidsus Febrie Adriansyah justru mengarah ke arah yang tak terduga. Ini setelah kepala rumah tangga (karumga) pria yang kini mendekam di rutan KPK tersebut ditemukan tewas misterius pada Kamis (23/7) lalu.
Pria yang kemudian diidentifikasi bernama Sutrimo tersebut dibawa ke RS Muhammadiyah Taman Puring dalam kondisi sudah meninggal dan seluruh badannya tertutup kain. Dari foto rekaman CCTV pada 23 Juli pukul 09.09 itu, Sutrimo diturunkan dari ambulans dengan menggunakan brankar (tempat tidur dorong).
Orang yang menjadi penanggung jawab Sutrimo ketika di RS Muhammadiyah Taman Puring adalah Febrio Adianto. Nama ini dikenal sebagai ADC (aide de camp, atau ajudan) dari Febrie Adriansyah. Belakangan, ketika dikonfirmasi via telepon oleh seorang jurnalis, Febrio mengaku tidak tahu apa-apa. ’’Saya tidak tahu apa-apa mengenai hal itu,’’ ucapnya.
Menurut salah seorang tenaga kesehatan yang tahu soal peristiwa itu mengatakan bahwa Sutrimo ditemukan tergeletak di depan klinik Mordent, sebuah klinik kosong yang teridentifikasi milik eks Jampidsus. Jaraknya hanya sekitar 900 meter dari rumah Febrie Ardiansyah di Radio Dalam. ’’Tapi sudah kosong. Hanya ada tulisannya saja, tapi tidak ada alat maupun aktivitas apa pun,’’ ucap pria tenaga kesehatan senior tersebut yang menolak namanya disebutkan itu.
Menurut penuturannya, jasad Sutrimo tergeletak di luar, di dekat tangga. ’’Tapi, masih di halaman klinik itu,’’ ucapnya. Saat itu, dari hidung dan mulutnya keluar busa warna kuning. ’’Saya tak punya kewenangan untuk menyebutkan atau mengetahui penyebab kematiannya, tapi rasanya agak janggal,’’ tambahnya. Yang dimaksud janggal adalah kematiannya bukan karena sebab alami.
Selain itu, dia juga menyebutkan kejanggalan soal siapa yang bertanggung jawab. ’’Yang order orangnya lain, yang nerima di lokasi juga lain. Juga di rumah sakit seperti itu. Orangnya beda-beda terus,’’ katanya.
Proses di RS berlangsung cukup cepat, sebelum akhirnya jenazah Sutrimo diantar ke rumahnya di Banyumas. Saat itu, yang mengantar adalah tiga orang. Satu orang sopir ambulans dan dua orang berperawakan seperti tentara. Salah satunya diidentifikasi sebagai babinsa bernama Achmad Machmud.
Menurut keterangan, jenazah sudah dimandikan dan dikafani. Keluarga tidak banyak menyentuhnya. Dompet, HP, dan baju almarhum pun belum diserahkan. Namun, keluarga menerima santunan banyak. ’’Saya tidak tahu, tapi amplopnya sangat tebal,’’ tutur seorang tenaga kesehatan yang tahu soal kematian Sutrimo.
Salah satu kejanggalan lainnya, pagi harinya Sutrimo masih sempat telepon-teleponan dengan Soim, adik iparnya. Soim juga bercerita bahwa pria yang kabarnya sudah 25 tahun ikut Febrie Adriansyah tersebut beberapa kali curhat. Yakni, katanya pernah dijanjikan mobil, tapi tak pernah terealisasi. Soim juga bercerita bahwa Sutrimo mengaku tidak cocok dengan kakak ipar Febrie. Ini karena terkait masalah proyek batu bara di Jambi, dan Soim mengatakan bahwa sejak masalah itu, Sutrimo mengaku selalu ketakutan.
Entah apa penyebab kematian Sutrimo, namun yang jelas dua hari terakhir ini berhembus kabar bahwa Sutrimo dilenyapkan karena tahu terlalu banyak, dan bisa menjadi saksi kunci terkait dugaan kasus korupsi yang kini membelit Febrie.
Jika ini memang benar Sutrimo meninggal bukan karena sebab alami, maka sungguh murah nyawa di negeri ini. Dan para pejabatnya, selain tamak luar biasa, juga kejamnya luar biasa. Kok yo apes urip nang negoro sing elit pemimpine koyo asu kabeh.
Editor - Andi Pooja
Redaktur - Andi Rusdi

