Saromase

 Saromase 



SIDRAP, - SULAWESI SELATAN - Alqantaranews.id - Lima hari pelaksanaan Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026 menghadirkan pemandangan yang jarang terjadi di Kabupaten Sidrap. Sekitar 72 ribu guru memadati Stadion Ganggawa pada hari pembukaan. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan, penginapan penuh, rumah makan kewalahan melayani tamu, sementara lapak-lapak UMKM di sekitar Monumen Ganggawa, halaman Masjid Agung Pangkajene, Pangker, hingga kawasan stadion nyaris tak pernah sepi. Porsenijar jadi momentum yang menghidupkan denyut ekonomi masyarakat.


Jika dihitung secara konservatif, potensi ekonomi yang berputar selama penyelenggaraan kegiatan ini mencapai sekitar Rp50 miliar. Pada hari pembukaan saja, dengan asumsi rata-rata pengeluaran peserta sebesar Rp350 ribu per orang yang meliputi makan dan minum, transportasi, suvenir, dan berbagai kebutuhan lainnya, terjadi transaksi sekitar Rp25,2 miliar. Setelah defile berakhir, sekitar 4.200 atlet, peserta lomba, pelatih, dan ofisial masih bertahan hingga penutupan untuk mengikuti 23 cabang, terdiri atas 11 cabang olahraga, 11 cabang seni, dan 1 cabang pembelajaran. Dengan asumsi rata-rata pengeluaran Rp200 ribu per hari selama empat hari, kembali tercipta perputaran uang sekitar Rp3,36 miliar. Selebihnya berasal dari sektor lain seperti penginapan, transportasi, serta belanja peserta sebelum dan sesudah kegiatan.


Pedagang makanan, penjual kopi, warung, pelaku UMKM, ojek, jasa parkir, hingga penjual pakaian dan oleh-oleh menikmati berkah dari hadirnya puluhan ribu tamu. Uang yang dibelanjakan para peserta tidak berhenti di satu tempat, tetapi terus bergerak ke pemasok, petani, peternak, dan berbagai pelaku usaha lainnya. Inilah efek berganda yang selalu diharapkan dari sebuah agenda berskala besar. Porsenijar membuktikan bahwa kegiatan pendidikan juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah apabila dikelola dengan baik.


Keberhasilan itu tentu tidak lahir dalam semalam. Di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif, Sidrap mempersiapkan diri dengan serius sebagai tuan rumah. Fasilitas dibenahi, venue ditata, koordinasi lintas sektor diperkuat, dan masyarakat diajak terlibat menyambut tamu dengan sebaik-baiknya. 


Nah mungkin paling berkesan justru bukan angka Rp50 miliar itu. Hal terbesar yang dibawa pulang para tamu adalah pengalaman merasakan nilai-nilai Saromase yang selama ini menjadi ruh kepemimpinan Syaharuddin Alrif. 


Ketulusan melayani, keramahan menyambut tamu, dan kesediaan membantu tanpa menghitung untung-rugi menjadi wajah yang mereka temui di banyak sudut Sidrap. 


Jika kemudian perputaran ekonomi mencapai puluhan miliar rupiah, itu adalah buah dari kepercayaan dan pelayanan yang tumbuh dari nilai Saromase. Sebab orang akan datang ke sebuah daerah karena acaranya, tetapi mereka akan kembali karena cara daerah itu memperlakukan tamunya.

#saromase

Dikutip dari haris syah

Di kutif dari Fb Syaharuddin Alrif

Editor :

Andi Pooja

Redaksi/Publizher:

Andi Rosha

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak