Jacob Ereste :
*Spiritualitas Pengasah Hati Untuk memahami Mimpi Rakyat Yang Gelisah Dengan Perutnya Yang Lapar*
BANTEN,- Alqantaranews.id - Spiritualitas adalah pembingkai etika, moral dan akhlak mulia untuk tidak membelot menjadi manusia yang ingkar, pembohong, penipu, berprilaku cilas dan semua tatanan adat tradisi maupun modern yang disebut etika.
Dan hanya dengan etika yang tuguh bisa memasuki tatanan moral yang sudah diatur dengan rambu-rambu agama yang baik, dan tegas melarang melakukan perbuatan yang buruk, perilaku yang tidak terpuji termasuk perlakun untuk diri sendiri yang tidak baik.
Pada tehapan berikutnya begitulah moralitas dapat dibangun dengan fondasi utama etika dan moral yang bersih untuk menegakkan akhlak yang kukuh sehingga membentuk kepribadian yang mulia dalam satu kesatuan kesadaran yang otentik, tiada perduli terhadap cemoohan maupun pujian dari siapapun. Karena semua dilakukan sebagai bagian dari kepatuhan yang berasal dari petunjuk langit.
Itulah sebabnya nilai-nilain spuritualitas sangat diperlukan bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Agar ketika menjadi makmum dapat patuh pada petunjuk dan bimbingan imam yang sudah dapat dipastikan sungguh untuk menuntun kepada jalan yang benar dan lurus.
Ketika saat menjadi imam atau pemimpin, spiritualutas bisa membimbing sebagai contoh, tauladan yang patut dan layak diikuti dan ditaati. Maka itu, pemahaman pada pernyataan sami'na wato'na menjadi penting ditaati dan diikuti sebagai tauladan dan petunjuk, karena tidak cuma sekedar memberi contoh, tapi juga dapat menjadi contoh. Oleh seban itu, seorang pemimpin tidak cuma sekedar omon-omon, tapi harus memberi contoh dan menjadi contoh dalam perikaku dan perbuatan yang nyata untuk umat atau makmum yang dia pimpin agar melakukan penyanggahan atau tindakan pembangkangan seperti perlawanan rakyat yang terpaksa memberontak terhadap raja yang zalim, karena tak layak dan tidak pantas untuk disembah.
Pepatah yang tak pernah usang adalah "raja alim disembah, raja zalim disanggah" telah menjadi petuah yang bijak tak hanya untuk rakyat debagai kawulo alit yang telah memiliki pakem sendiko dawuh, tapi petiah yang bijak itu tidak bisa diabaikan oleh sang raja, agar bisa terus bertengger terhormat di atas singgasana, agar pembangkangan tidak sampai terjadi atau bahkan harus memenggal kepala sang raja, seperti kisah Raja Luis yang telah melagenda sampai dipenghujung peradaban modern hari ini.
Jadi, esensi dari laku spirutual sangat diperlukan bagi manusia sebagai kawulo alit maupun baginda yang duduk di singgasana kekuasaan, tanpa kecuali. Karena nilai-nilai spiritialitas itu bersifat universal dan penting untuk menundukkan egosentrisitas diri yang sering dianggap tidak bisa dikontrol oleh siapapun. Padahal, raja dan ratu yang bijak, wajib mendengar dera derita, kekuh dan kesah serta rintihan rakyat yang tidur sambil mendekap kecemasan dan pulas bersama perut yang lapar. Banten, 13 Juni 2026.
Editor:
Andi Pooja
Redaksi/Publizher:
Andi Rosha
