Pilketos E-Voting di Sulsel Jadi Laboratorium Pemilu bagi Pelajar
SOPPENG, SULAWESI SELATAN – https : Alqantaranews.id - Penerapan aplikasi e-voting dalam Pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (Pilketos) di berbagai sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang akan di gelar serentak 30 September 2026 dengan Dukungan Dinas Pendidikan dan KPU Sulsel kini menjadi salah satu metode pemilihan yang semakin populer.
Tidak sekadar memanfaatkan perkembangan teknologi, Pilketos berbasis e-voting dinilai dapat menjadi miniatur atau laboratorium Pemilu bagi pelajar. Melalui sistem tersebut, siswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai proses demokrasi sekaligus mengenal teknologi pemungutan suara digital.
Ketua Forum Musyawarah Kerja Pengurus OSIS (MKP OSIS) Kabupaten Soppeng, Faiqah Nailah, mengatakan penerapan e-voting memberikan ruang pembelajaran demokrasi yang lebih nyata bagi siswa.
“Melalui sistem ini, siswa tidak hanya belajar berdemokrasi secara praktis, tetapi juga langsung diperkenalkan pada masa depan pemungutan suara digital yang modern, efisien, dan transparan,” ujar Faiqah.
Menurutnya, sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya demokrasi sejak dini. Pilketos dapat menjadi sarana bagi siswa untuk memahami bahwa proses demokrasi tidak hanya berbicara tentang memilih dan dipilih, tetapi juga menyangkut tata kelola, kejujuran, transparansi, serta tanggung jawab.
Mengapa Pilketos E-Voting Disebut Laboratorium Pemilu?
Pilketos berbasis digital dapat dirancang dengan tahapan yang menyerupai proses Pemilu maupun Pilkada. Mulai dari pemutakhiran Daftar Pemilih Tetap (DPT), verifikasi identitas pemilih, penggunaan token atau kartu login, bilik suara digital, hingga penandaan bukti bahwa siswa telah menggunakan hak pilihnya.
Dengan mekanisme tersebut, siswa dapat memahami secara langsung pentingnya ketepatan data pemilih, proses verifikasi, kerahasiaan pilihan, serta pengelolaan hasil pemungutan suara.
“Kalau siswa sejak sekolah sudah terbiasa dengan proses pemilihan yang tertib, transparan dan bertanggung jawab, tentu akan menjadi pengalaman penting ketika mereka nantinya menjadi pemilih dalam Pemilu yang sesungguhnya,” kata Faiqah.
Selain memberikan pengalaman teknologi, Pilketos e-voting juga menjadi media pendidikan karakter demokrasi.
Siswa diperkenalkan dengan asas "Luber Jurdil", yakni Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan mulai dari proses pencalonan, kampanye, pemungutan suara hingga penghitungan dan penetapan hasil.
Siswa juga belajar menghargai perbedaan pilihan, menggunakan hak suara secara bertanggung jawab, menerima hasil pemilihan, serta menjaga suasana demokrasi yang sehat di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, Pilketos tidak hanya menghasilkan seorang ketua OSIS, tetapi juga menjadi proses pembelajaran kepemimpinan dan demokrasi bagi seluruh warga sekolah.
Faiqah menilai penerapan "e-voting" di sekolah juga dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan teknologi pemungutan suara kepada generasi muda.
Perkembangan teknologi digital telah mendorong munculnya berbagai kajian mengenai pemanfaatan sistem elektronik dalam proses pemungutan suara. Karena itu, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang pembiasaan bagi siswa untuk memahami peluang sekaligus tantangan teknologi dalam penyelenggaraan pemilihan.
“Sekolah bisa menjadi laboratorium demokrasi sekaligus laboratorium literasi digital. Siswa belajar menggunakan teknologi dengan tetap memahami prinsip keamanan, transparansi, kerahasiaan suara, kejujuran dan keadilan,” jelasnya.
Penerapan Pilketos "e-voting" di Sulawesi Selatan diharapkan tidak berhenti pada penggunaan aplikasi semata. Lebih jauh, sistem tersebut dapat menjadi bagian dari pendidikan demokrasi dan literasi digital yang berkelanjutan.
Melalui pengalaman memilih secara digital, siswa dibiasakan memahami proses demokrasi secara utuh sekaligus dipersiapkan menjadi pemilih yang cerdas, kritis dan bertanggung jawab di masa depan.
Pilketos pun tidak lagi sekadar agenda tahunan sekolah untuk memilih pengurus OSIS. Dengan dukungan teknologi, kegiatan tersebut dapat menjadi laboratorium Pemilu di lingkungan pendidikan, tempat siswa belajar tentang demokrasi, kepemimpinan, partisipasi, integritas dan transformasi digital secara langsung.(*)
Editor : Andi Pooja
Redaksi : Andi Rosha
