Menegur Dengan Resiko di Benci

 




Menegur Dengan Resiko di Benci, Oleh Pasangan 




Alqantaranews.id
- Sahabat Fillahku yang saya muliakan di mana saja berada...

Di dunia ini kita mudah menyebut banyak orang sebagai Sahabat Sejati

Teman tertawa.

Teman nongkrong.

Teman cerita.

Namun pernahkah kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri:

Siapa yang akan tetap bersamaku…

saat aku tak lagi punya apa-apa?”

Suatu hari, langkah kita akan terhenti.

Telepon tak lagi digenggam.

Nama kita tak lagi dipanggil.

Dan satu per satu sahabat dunia

akan pulang…

meninggalkan kita sendirian.

Saat itu,

tidak ada yang bisa berkata,

“Tenang, aku di sini.”

Kecuali…

*sahabat akhirat.*

Sahabat Fillahku

Sahabat akhirat bukan yang selalu ada di saat senang,

tetapi yang menarik tangan kita saat hampir jatuh dalam dosa

Bukan yang menepuk bahu saat kita benar,

tetapi yang  menegur dengan risiko dibenci dengan Sahabat/  pasangan kita.

Ia mungkin tidak selalu membuat kita nyaman,

namun ia takut melihat kita celaka di hadapan Allah.

Bayangkan

jika suatu hari kita berdiri gemetar,

mencari-cari wajah yang dulu menemani hidup kita,

lalu kita sadar

Tak satu pun mengingatkan kita untuk taat.

Tak satu pun mengajak kita mendekat pada Allah.

Yang tersisa hanya kalimat pilu:

Seandainya dulu aku memilih sahabat yang benar…”

Sahabat Fillahku...

Hati ini pelan-pelan dibentuk oleh siapa yang kita dengar.

Iman ini perlahan hidup atau mati

karena siapa yang kita ikuti.

Jika sahabatmu membuat lalai,

imanmu akan lelah.

Jika sahabatmu menjauhkan dari Allah,

hatimu akan kosong.

Namun jika sahabatmu mengingatkan Sholat,

mengajak kebaikan, pertahankan karena itu adalah sahabat sejatimu di dunia dan akhirat.

menangis bersamamu karena takut pada Allah—

itulah sahabat yang kelak mencarimu kembali.

Bukan di dunia…

tetapi di akhirat.

Saudaraku yang masih diberi kesempatan,

Carilah sahabat, dimana kehadiranmu di syukuri  di hargai dan dihormati

yang ketika kamu salah, ia mengingatkan.

Yang ketika kamu lemah, ia menguatkan iman.

Yang ketika kamu hampir lupa Allah,

ia mengajakmu kembali.

Karena di akhir perjalanan nanti,

kita sangat membutuhkan satu suara yang berkata:

“Ya Allah, ia sahabatku…

aku bersaksi, ia pernah berjuang untuk taat.”

Insya Allah menghadiahkan kita sahabat-sahabat

yang saling menggenggam hingga ke surga-Nya( JannahNya).


Editor  : Andi Pooja

Pemimpin Redaksi :  Rosdiana Hadi S Sos 

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak