Kearifan Lokal Bali: Ritual 105 Hari Bayi Perkokoh Identitas Budaya



Kearifan Lokal Bali: Ritual 105 Hari Bayi Perkokoh Identitas Budaya






BULELENG , BALI  —Alqantaranews.id -  Tradisi dan kearifan lokal masyarakat Bali kembali terlihat dalam pelaksanaan upacara keagamaan Hindu yang sarat makna spiritual dan budaya. Pada Minggu (26/4/2026), masyarakat Kabupaten Buleleng tepatnya di Tunggawisia menggelar upacara tiga bulanan (105 hari) bagi seorang bayi sebagai bagian dari rangkaian adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.


Upacara ini merupakan kelanjutan dari prosesi sebelumnya, yakni upacara megedong-gedongan yang dilakukan saat bayi masih dalam kandungan, kemudian dilanjutkan dengan upacara setelah kelahiran, termasuk ritual 42 hari. Memasuki usia 105 hari, bayi kembali diupacarai sebagai bentuk penyucian sekaligus pengenalan spiritual terhadap kehidupan di dunia.


Prosesi berlangsung khidmat dengan melibatkan keluarga dan tokoh adat setempat. Terlihat berbagai sarana upacara seperti sesajen, tirta suci, serta perlengkapan ritual lainnya yang disiapkan secara khusus sesuai dengan tuntunan agama Hindu di Bali.

Tidak hanya sebagai ritual keagamaan, upacara ini juga menjadi simbol kuat pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. Meski era teknologi dan kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat, masyarakat Bali tetap berkomitmen menjaga nilai-nilai tradisi sebagai identitas diri.

Selanjutnya, bayi tersebut akan mengikuti tahapan upacara berikutnya, yakni upacara enam bulanan (210 hari). Dalam prosesi tersebut, bayi biasanya mulai diperkenalkan dengan tanah untuk pertama kalinya, yang dikenal sebagai momen penting dalam kehidupan, serta dilakukan ritual potong rambut atau mepetik.

Melalui pelaksanaan upacara seperti ini, diharapkan nilai-nilai budaya dan ajaran agama Hindu di Bali dapat terus lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga semakin memperkokoh jati diri masyarakat Bali.(*)


Penulis/ Pewarta 

Kaperwil Sulsel

[Robby]

Editor: Andi Sri Hasmuliaty 

Redaksi/ Publizher:

Andi Rosha 


Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak