Lamine Yamal Adalah Tembok-Tembok Baru Peradaban Dunia, Bukan Ratapan Granada ‎

 Lamine Yamal Adalah Tembok-Tembok Baru Peradaban Dunia, Bukan Ratapan Granada



MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — https:// alqantaranews.id ,- 27 Juni 2936//Granada tidak sedang menangis,

‎Alhambra tidak sedang meratap. Cordoba tidak sedang berkabung. Yang berubah hanyalah cara sejarah berbicara kepada manusia.

Banyak orang melihat Lamine Yamal hanya sebagai seorang pemuda Muslim yang mengenakan seragam Spanyol. 

‎Sebagian bahkan menjadikannya simbol hilangnya Andalusia, seolah setiap tepuk tangan untuknya adalah satu lagi pengkhianatan terhadap sejarah Islam.

Pandangan itu terdengar puitis, tetapi belum tentu adil.

Sebab sejarah tidak pernah berhenti pada reruntuhan.

Ia selalu menemukan jalan baru untuk hidup.

Andalusia memang kehilangan kekuasaan politik pada 1492. 

‎Masjid-masjid berubah menjadi gereja. Bendera Islam diturunkan dari benteng Granada. Namun apakah peradaban hanya diukur dari siapa yang menguasai wilayah?

Jika demikian, maka Romawi mati ketika Konstantinopel jatuh. Yunani mati ketika Athena ditaklukkan. Padahal faktanya, gagasan mereka terus hidup melintasi zaman.

Begitu pula Andalusia.

‎Peradaban tidak diwariskan melalui tembok-tembok istana.

Ia diwariskan melalui manusia.

‎Dan hari ini, salah satu manusia itu bernama Lamine Yamal.

Ia bukan Ibnu Rusyd. Ia bukan Abbas bin Firnas. Ia bukan Az-Zahrawi.

Tetapi ia membuktikan satu hal yang sama: seorang anak dari latar belakang Muslim mampu berdiri di panggung dunia melalui kerja keras, disiplin, ilmu, dan bakat yang diasah tanpa henti

Bukankah itu juga bagian dari warisan peradaban?

Kita sering terjebak pada romantisme masa lalu.

Seolah kebangkitan Islam hanya bisa diukur dengan berdirinya kekhalifahan, megahnya masjid, atau kembalinya Andalusia.

Padahal Islam sejak awal tidak pernah mengajarkan nostalgia.

‎Islam mengajarkan kontribusi.

‎Di mana pun seorang Muslim berada, di situlah ia dituntut menghadirkan kemanfaatan.

Lamine Yamal melakukannya di lapangan sepak bola.

Seorang ilmuwan melakukannya di laboratorium.

Seorang guru melakukannya di ruang kelas.

Seorang dokter melakukannya di rumah sakit.

Semuanya adalah bagian dari peradaban

Mengapa kita harus mempertentangkan stadion dengan perpustakaan?

Mengapa sepak bola harus dianggap musuh ilmu pengetahuan?

Bukankah sejarah Islam justru menunjukkan bahwa manusia yang utuh adalah mereka yang mampu 

‎menyeimbangkan jasmani, akal, dan ruhani?

Masalah umat bukan karena terlalu banyak atlet.

Masalahnya adalah terlalu sedikit ilmuwan

Bukan karena lahirnya Lamine Yamal.

‎Melainkan karena belum cukup banyak lahir "Lamine Yamal" di bidang teknologi, kedokteran, ekonomi, kecerdasan buatan, astronomi, dan riset.

Yang harus diperbanyak bukan rasa bersalah karena mengagumi seorang atlet.

Yang harus diperbanyak adalah melahirkan lebih banyak teladan di berbagai bidang.

Granada tidak membutuhkan air mata.

‎Granada membutuhkan generasi.

Generasi yang mampu berbicara dalam bahasa dunia tanpa kehilangan identitasnya.

Generasi yang mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain tanpa merasa inferior.

Generasi yang tidak hanya mengingat sejarah, tetapi juga menulis sejarah baru.

‎Lamine Yamal hanyalah satu batu bata.

‎Bukan bangunan utuh.

Tetapi setiap peradaban selalu dimulai dari satu batu bata pertama

Barangkali, tembok-tembok Granada memang telah runtuh.

Namun tembok-tembok baru sedang dibangun.

Bukan dari batu kapur

Melainkan dari pengetahuan, kreativitas, inovasi, karakter, dan keberanian generasi muda Muslim yang mampu bersaing di panggung global.

‎Peradaban tidak selalu lahir dari istana.

‎Kadang ia lahir dari ruang kelas.

‎Kadang dari laboratorium.

‎Kadang dari perusahaan rintisan.

Dan kadang...

Ia lahir dari kaki seorang pemuda berusia belasan tahun yang membuat dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan bakatnya.

‎Karena sejarah tidak hanya bertanya, 

‎"Siapa yang menguasai Granada?"

‎Sejarah juga bertanya,

"Siapa yang sedang membangun dunia hari ini?"

Mungkin jawabannya bukan lagi tersimpan di balik benteng Alhambra.

‎Tetapi sedang berlari di atas rumput hijau, membawa nama Lamine Yamal, sebagai pengingat bahwa peradaban tidak pernah benar-benar mati.

Ia hanya berpindah tangan kepada mereka yang siap bekerja, belajar, dan memberi manfaat bagi dunia.(*)

Pewarta- Kaperwil Sulawesi Selatan - Robby Rumba 

Editor - Andi Pooja 

Redaktur - Andi Rusdi 

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak